Connect with us

Hi, what are you looking for?

Berita

XPeng P7 Bisa Menyetir Sendiri di Jalanan China dengan Teknologi VLA 2.0

Teknologi VLA 2.0 di XPeng P7
Teknologi VLA 2.0 di XPeng P7 (sumber: Electrek)

Autos.id – Teknologi mengemudi otomatis pada mobil listrik China terus berkembang. Salah satu yang tengah menjadi sorotan adalah sistem VLA 2.0 milik XPeng yang disematkan pada sedan listrik XPeng P7.

Dikutip dari laporan Liputan6 yang menjajal langsung XPeng P7 di Guangzhou, China, sistem smart-driving tersebut mampu membuat mobil melaju nyaris tanpa intervensi pengemudi selama sekitar 20 hingga 25 menit.

Teknologi VLA 2.0 atau Vision-Language-Action menjadi generasi terbaru sistem bantuan mengemudi XPeng. Saat fitur aktif, pengemudi hanya perlu menjalankan mobil dari posisi parkir lalu menekan tombol aktivasi di sisi kiri bawah setir. Setelah itu, sistem akan mengambil alih sebagian besar proses berkendara.

Ketika mode smart-driving aktif, indikator berwarna biru akan muncul di layar utama. XPeng juga menyematkan lampu biru di bagian belakang kendaraan sebagai penanda bahwa sistem autonomous driving sedang bekerja.

Menurut laporan Liputan6, XPeng P7 mampu mengikuti arus lalu lintas, menjaga jarak kendaraan, menyesuaikan kecepatan, hingga membaca kondisi jalan secara real-time. Sistem juga dapat mendeteksi lampu lalu lintas, termasuk hitung mundur lampu merah di persimpangan.

Pada layar kendaraan, berbagai objek di sekitar mobil turut ditampilkan secara langsung, mulai dari kendaraan lain, pejalan kaki, hingga skuter listrik yang banyak ditemui di jalanan China.

Sistem tetap dapat bekerja meski marka jalan tidak terlalu jelas. Mobil juga mampu melakukan perpindahan jalur mengikuti kondisi lalu lintas secara otomatis.

Sedan XPeng P7

(sumber: Xpeng)

Meski begitu, teknologi VLA 2.0 belum sepenuhnya tanpa kekurangan. Dalam beberapa kondisi, seperti saat kendaraan perlu mundur ketika putar arah terhalang mobil lain, sistem masih memerlukan intervensi pengemudi.

Pengemudi juga tetap diwajibkan menyentuh setir secara berkala. Jika tidak ada respons dalam waktu tertentu, sistem otomatis akan menonaktifkan mode smart-driving dan mengembalikan kendaraan ke mode manual.

Dikutip dari Electrek, sistem VLA 2.0 menggunakan pendekatan end-to-end vision-to-action yang memungkinkan mobil menerjemahkan data visual dari kamera langsung menjadi keputusan berkendara. Teknologi ini disebut mirip dengan pendekatan Tesla Full Self-Driving (FSD).

XPeng mengembangkan sistem tersebut menggunakan chip AI Turing dengan kemampuan komputasi hingga 2.250 TOPS. Perusahaan juga melatih model AI menggunakan lebih dari 100 juta klip skenario berkendara ekstrem.

Media tersebut menilai kemampuan VLA 2.0 mulai mendekati Tesla FSD, terutama saat digunakan di lalu lintas padat Beijing yang dikenal agresif dan kompleks.

Sementara itu, InsideEVs menyebut VLA 2.0 tampil cukup halus dan percaya diri saat digunakan di kondisi lalu lintas nyata. Namun sistem masih dinilai terlalu bergantung pada kendaraan di depan dan terkadang terlambat saat berpindah jalur atau mempersiapkan manuver belok.

XPeng sendiri mengakui teknologi ini masih membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum diterapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut Oscar Wu, Autonomous Driving Operations Expert XPeng, karakter lalu lintas di tiap negara menjadi tantangan utama pengembangan autonomous driving.

Oscar menjelaskan bahwa XPeng saat ini menggunakan lebih dari 50.000 simulasi corner cases yang merepresentasikan kondisi dunia nyata. Simulasi tersebut disebut setara dengan 30 juta kilometer pengujian kendaraan setiap hari.

Selain China, XPeng juga telah melakukan pengujian di beberapa wilayah Eropa seperti Norwegia. Sistem ini dikembangkan menggunakan Physical World Foundation Model yang dirancang agar mampu memahami situasi jalan secara lebih natural.

Di sisi lain, XPeng juga mulai memperkuat strategi lokalisasi di berbagai pasar global. Vice President XPeng Jacky Gu mengatakan perusahaan tidak hanya fokus pada manufaktur, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia, kemampuan teknik, hingga rantai pasokan lokal.

Saat ini XPeng telah memiliki fasilitas perakitan di Indonesia, Malaysia, dan Austria. Untuk pasar Indonesia, perakitan dilakukan di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM).

Menurut Jacky, tantangan terbesar saat ini adalah membangun ekosistem kendaraan listrik, termasuk baterai, powertrain listrik, dan teknologi ADAS agar industri EV lokal semakin berkembang.

Kehadiran XPeng P7 dengan teknologi VLA 2.0 menunjukkan persaingan autonomous driving di industri mobil listrik semakin ketat. Tesla memang masih menjadi acuan utama, tetapi produsen otomotif China mulai menunjukkan perkembangan signifikan dalam teknologi bantuan mengemudi pintar.

Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi autos.id.

Baca Juga

Berita

Last updated on 19 November, 2025 Autosdotid – Ekspansi mobil listrik di Indonesia makin masif. Setelah XPENG Indonesia kembali resmikan XPENG City Store BSD...