Autos.id-Jakarta. Kinerja otomotif setiap awal tahun cenderung melambat, kali ini cukup banyak indikator yang membuat penjualan mobil baru lesu, salah satunya selesainya insentif untuk mobil listrik di akhir tahun 2025. Sampai bulan Januari lalu, pemerintah belum secara tegas memberikan insentif, dan formulasi insentif seperti apa yang bakal diterapkan.
Gaikindo merilis kinerja otomotif nasional secara retail Januari 2026 mencapai 66.936 unit. Sementara di akhir Desember 2025 angka retail mencapai 93.833 unit. Merujuk data tersebut pasar terkoreksi dengan terjadi kontraksi 28,7%.

Brand dengan penjualan terbanyak relatif tidak berubah pada jajaran top 5 brand Jepang. Toyota memimpin dengan 22.066 unit. Daihatsu diposisi kedua dengan 11.202 unit. Posisi Ketiga dihuni Mitsubishi Motors dengan 6.141 unit dan Posisi keempat dihuni oleh Suzuki dengan 5.501 unit. Posisi kelima dihuni oleh Honda dengan 4.233 unit.
Komposisi Mitsubishi Passenger dikuasai oleh Xpander all varian dengan angka mencapai 1949 unit (wholesales). Posisi kedua dikuasai oleh Mitsubishi Destinator dengan angka signifikan 1314 unit. Posisi ketiga Xpander Cross dengan 744 unit dan X-Force dengan 399 unit serta Pajero Sports 4×4 dengan 160 unit dan 4×2 mencapai 661 unit. Di sektor niaga L300 mencatatkan 1165 unit dan Triton Double Cabin 148 unit.

Suzuki yang tetap mempertahankan posisi ke-4 terbaik dengan 5501 secara retail. Suzuki Fronx mencatatkan penjualan 681 unit (wholesales). All New Ertiga 69 unit, Suzuki S-Presso 182 unit, Alpha Hybrid 2 Tone 243 unit, XL-7 All Varian 548 unit, APV 56 unit, Grand Vitara 70 unit, New Jimny JB74 3 & 4 doors 270 unit, serta New Carry PU 657 unit.
Angka penjualan secara wholesales yang fantastic juga terjadi di mobil-mobil listrik. Sebut saja Jaecoo J5 Premium sebagai salah satu EV terlaris terjual 1942 unit pada Januari 2025. Sementara Chery iCar 03 dan J6T terjual 173 unit. DENZA D9 dengan 392 unit, BYD Atto 1 dengan 3361 unit.
Baca juga : IIMS 2026 Resmi Dibuka, Awali Optimisme Industri Otomotif Indonesia Di Tahun 2026

Sementara di mobil passenger PHEV terjual 502 unit pada Januari 2025. namun angka tersebut secara month to month (MtM) pada Januari 2026, pasar PHEV justru turun tajam alias terjadi kontraksi. Pada Desember 2025, penjualan PHEV sempat menyentuh angka 1.051 unit. Artinya, turun sekitar 52 persen pada Januari 2026. Ini kemungkinan merupakan dampak dari siklus tahunan industri otomotif.
Dibanding model mobil listrik lain, penjulan PHEV masih tergolong kecil. Mobil listrik 10.211 unit, dan hybrid 4.195 unit. Dari total pasar mobil Listrik— gabungan battery electric vehicle (BEV), hybrid electric vehicle (HEV), dan PHEV— yang mencapai 14.908 unit pada Januari 2026, kontribusi PHEV baru menyumbang sekitar 3,3 persen.
Dikutip dalam halaman kontan, Agus Gumiwang menegaskan bahwa insentif untuk industri otomotif masih dalam proses pengajuan ke kementerian keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Usulan tersebut diklaim sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri manufaktur dan tenaga kerja.
“Kami sudah kirim dan tentu seperti yang selalu kami sampaikan bahwa program yang kami usulkan atas nama perlindungan tenaga kerja, dan juga kekuatan atau penguatan manufaktur bidang otomotif yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi kepada perekonomian,” tutup Agus.
Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi autos.id.
























