Last updated on 11 April, 2026
Autos.id – Sailun Group sepertinya punya kemampuan untuk merangsek di segmen Commercial Vehicle. Dengan dua produk baru yang spesifik menyasar kebutuhan komersial. Sepetri SFR25 dan S690. Ajang Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle (GIICOMVEC), menjadikan ajang ini untuk kenalkan produk terbaru mereka.
Langkah ini merupakan hal penting untuk memperlihatkan bagaimana Total Cost of Ownership (TCO) sendiri jadi concern mereka. Dengan memilih ban yang tepat, sepertinya operasional pun akan jauh lebih murah. Sebaliknya malah salah memilih ban malah membuat konsumsi BBM dan downtime armada akan bertambah besar.
Hadirkan Ban Komersial Terbaru

Buat segmen transportasi jarak jauh. Terutama di Tol, Sailun hadirkan S690 sebagai ban untuk posisikan buat operasional intensif dan stabilitas tinggi. Dengan daya tahan dan konsistensi, ban ini pastinya cocok untuk armada logistik yang memiliki rute jarak jauh.
Dari sisi lain, SFR25 bermain di segmen yang lebih kompleks sekali. Mulai dari transportasi regional hingga jarak menengah dan panjang. Dari sini saja, bukan daya tahan lagi, melainkan efisiensi dan optimalisasi ban di tengah perjalanan jauh tersebut. Efeknya berasa dari konsumsi BBM sampai kenyamanan berkendara.
Menurut Eko Supriyatin, Direktur Sales & Marketing PT Sailun Tire Indonesia, pendekatan Sailun memang berangkat dari realitas operasional di lapangan. Dalam kendaraan komersial, setiap detail berdampak langsung pada biaya. Karena itu, inovasi tidak berhenti di produk fisik, tetapi juga menyentuh teknologi seperti monitoring cerdas untuk membantu pengelolaan armada yang lebih efisien.
Sailun Tidak Bermain di Satu Brand
Yang menarik, Sailun tidak bermain dengan satu brand saja. Di Indonesia, mereka mengembangkan portofolio multi-brand yang mencakup Sailun, RoadX, Blackhawk, dan Maxam. Strategi ini menunjukkan pendekatan yang cukup agresif—bukan hanya menjual produk, tetapi membangun fleksibilitas untuk berbagai segmen, mulai dari logistik hingga alat berat dan konstruksi.
Dari sisi pengalaman di pameran, Sailun juga tidak setengah-setengah. Booth mereka di Hall B1 (B1-3) dan area outdoor dirancang interaktif dan imersif, memberi kesempatan pengunjung untuk melihat langsung produk sekaligus memahami positioning masing-masing lini. Ini penting, karena edukasi pasar masih menjadi tantangan utama di industri ban komersial.
Masuknya Pabrikan Sendiri

Namun fondasi utama strategi Sailun justru ada di belakang layar, tepatnya di fasilitas produksi mereka di Demak, Jawa Tengah. Pabrik ini bukan sekadar simbol investasi, tapi bagian dari strategi besar: produksi lokal untuk mempercepat distribusi dan menekan biaya. Dengan kapasitas mencapai jutaan unit per tahun untuk berbagai kategori—mulai dari PCR hingga TBR dan OTR—Sailun membangun supply chain yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar domestik dan regional.
Pendekatan ini mengarah pada satu hal: efisiensi yang terintegrasi. Dari pengembangan produk, teknologi, hingga manufaktur lokal, Sailun mencoba mengontrol lebih banyak variabel dalam rantai bisnisnya. Ini bukan strategi jangka pendek, tapi positioning jangka panjang untuk bersaing di industri yang margin-nya semakin ketat.
Ke depan, arah mereka juga sudah jelas—fokus pada efisiensi dan keberlanjutan. Dalam konteks industri kendaraan komersial yang terus ditekan oleh biaya operasional dan tuntutan emisi, dua faktor ini bukan lagi nilai tambah, tapi kebutuhan dasar.
Satu hal yang perlu dicatat: Sailun tidak sedang menjual ban. Mereka sedang menjual efisiensi operasional. Dan kalau mereka bisa membuktikan klaim tersebut di lapangan, dampaknya ke pasar akan jauh lebih besar dibanding sekadar peluncuran produk di pameran.
Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi autos.id.






















