Connect with us

Hi, what are you looking for?

Berita

Mobil Listrik China Tumbuh 72% di 2026, Tapi Serapan TKDN Masih Minim

Autos.id-Jakarta. Trend pertumbuhan mobil listrik domestik yang makin massive, menjadi satu tonggak penting bagi perkembangan otomotif nasional. Tahun 2026 ini periode  Januari-Mei seluruh brand mobil China yang dijual secara domestik mencapai angka yang signifikan, pertumbuhannya mencapai 72%, atau mencapai 63.274 unit, dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sedikit anomali memang, karena dari Januari hingga Mei tahun ini, pihak pemerintah belum memutuskan berapa insentif untuk mobil baru dengan elektrifikasi.  Awalnya bakal dirumuskan pada bulan Juli, namun diakhir Juni lalu, pemerintah menunda keputusan insentif pada bulan Agustus 2026. Itu artinya keputusan baru bisa berlaku setelah pelaksanaan GIIAS 2026.

Namun sebenarnya, faktanya berbagai insentif yang telah diguyur,  pertumbuhan industri otomotif tidak pernah lewat dari penjualan 1 juta unit dalam 2 tahun terakhir.

  • Tahun 2024: Penjualan turun sekitar 14% menjadi 865.723 unit.
  • Tahun 2025: Penjualan kembali merosot ke angka 803.687 unit. 

Sementara sejak tahun 2018, 2019, era pandemi (2020,2021) 2022, 2023, 2024, masa dimana pertumbuhan industri otomotif nasional bisa tumbuh melewati angka 1 juta unit.  Datanya sebagai berikut :

  • Tahun 2018: Penjualan mencapai masa kejayaannya di angka 1.151.413 unit.
  • Tahun 2019: Mengalami sedikit penurunan karena faktor tahun politik, namun tetap bertahan di 1.030.126 unit.
  • Tahun 2022: Setelah sempat anjlok drastis akibat pandemi di 2020-2021, pasar langsung bangkit kembali ke 1.048.040 unit.
  • Tahun 2023: Menjadi momen terakhir di level 1.005.802 unit.

Nah melihat data diatas, industri otomotif nasional yang tergabung dalam Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia),  bakal mengulang target penjualan mobil di 850.000-an unit di akhir 2026, Apakah itu sebuah usaha yang klimax?

“GAIKINDO melihat pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam mendukung industri otomotif nasional. Berbagai kebijakan yang diterapkan, mulai dari pemberian fasilitas investasi, insentif fiskal, hingga forum dialog yang rutin dengan pelaku industri, merupakan bentuk nyata upaya pemerintah dalam menjaga daya saing industri otomotif Indonesia sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh investor,” ujar Anton.

GAIKINDO mencatat salah satu bentuk dukungan yang diberikan pemerintah adalah pemberian fasilitas User Specific Duty-Free Scheme (USDFS) yang telah dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan otomotif, selama periode Juli 2008 hingga Desember 2025, realisasi impor melalui skema ini mencapai sekitar 8,25 juta ton dengan nilai sekitar USD 800 miliar.

Dari 74 perusahaan pengguna fasilitas tersebut, sebanyak 57 merupakan perusahaan otomotif. Fasilitas ini memberikan pembebasan bea masuk atas impor bahan baku dan komponen yang belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi dan memperkuat daya saing industri.

Kebijakan tersebut dimanfaatkan oleh hampir seluruh merek kendaraan bermotor yang diproduksi di Indonesia, seperti Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Nissan, dan Isuzu, sesuai ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Produsen Mobil China Tidak Libatkan Komponen Lokal

Fakta yang terlihat agak mencengangkan adalah statemen dari sekjen GIIAM (Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor)  Rachmat Basuki, dalam petikan dari laman sosmed Kumparanoto.id. “Sebenarnya mobil listrik China sifatnya masih jualan (impor CBU) atau simple assembly lewat inpor CKD set. Jadi pasokan lokal hampir belum ada. Mungkin ini tugasnya pemerintah dengan target TKDN tahun ini 40 persen untuk tingkatkan pasokan lokal.”

Lanjutnya, untuk mengakali TKDN 40 persen dengan impor komponen. “Kalau begitu, impor saja semua komponennya, assembling sudah dapat 30 persen. ” Menurutnya saat ini pabrikan bisa mendapatkan TKDN 30 Persen hanya dengan melakukan perakitan lokal.”

Sepertinya langkah itu belum dterapkan benar oleh ATPM.  Jadi sebenarnya tidak dengan cara mengimpor suku cadang, melainkan dengan melibatkan pabrik yang bisa memproduksi komponen secara lokal.  Seperti halnya dengan perpres No.55 Tahun 2019 terkait Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Tahun 2022 mobil berbasis BEV yang dirakit lokal sampai tahun 2023 TKDN minimal 20 persen.

Tahun 2024-2025 dilanjutkan dengan 40%.  Namun secara praktik pemerintah justru melonggarkan kepada produsen  dengan TKDN baru 30% untuk insentif mobil listrik. Selama rentang 2026 sampai 2030 harus memenuhi TKDN 60% dan berlanjut 80% pada 2031.

 

 

 

 

Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi autos.id.

Baca Juga

Lepas

Autos.id – Lepas E4 EV bersiap meramaikan pasar SUV listrik di Indonesia dalam waktu dekat. Setelah menjalani debut global di Indonesia International Motor Show...

BAIC

Autos.id – BAIC bersiap meramaikan pasar mobil listrik Indonesia dengan menghadirkan BAIC T1. Model ini akan menjadi mobil listrik berbasis baterai atau battery electric...

Tips

Autos.id – Fitur Vehicle-to-Load (V2L) bisa jadi salah satu jawaban terhadap potensi pemadaman listrik. Teknologi yang tersedia pada sejumlah mobil listrik ini memungkinkan energi...

Berita

Autos.id – Rencana pemerintah memberikan insentif untuk kendaraan listrik kembali mengalami penundaan. Setelah sebelumnya ditargetkan mulai berlaku pada Juli 2026, kebijakan tersebut kini diperkirakan...

Exit mobile version