Sementara indikator positif dari industri otomotif lainnya terlihat dari aktifitas produksi yang angkanya tumbuh 33% dari produksi Maret 82.511 unit ke 109.765 unit.
Dilihat dari neraca ekspor, pertumbuhan otomotif terlihat minus, sebesar 33,9% khusus untuk komponen. Angka tersebut menandakan bahwa kinerja ekspor cukup terpengaruh karena konflik kawasan Timur Tengah dan nilai tukar rupiah yang terus melemah, sebesar minus 5.301.271 unit.
Namun necara ekspor untuk CBU dan CKDmenunjukan keunggulan dan kekurangan masing-masing. Ekspor CBU tumbuh negatif minus 1,8% atau mencapai (-660).Sementara indikator CKDtumbuh positif 35,4% atau mencapai 1.781 unit.
Nah kinerja tersebut (wholesales, esport, production) mewakili angka industri makro business berbasis kerjasama B2B, antara dealer dengan manufaktur, antara negara produsen dengan negara tujuan ekspor dan para pelaku industri supporting.
Sementara dari sektor market berbasis pembeli mikro market dan consumer market atau retail sales (B2C), Industri Otomotif Nasional mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 13,7%, atau mencapai 76.730 unit pada bulan April, setelah sebelumnya hanya mencapai 66.595 unit di bulan Maret.
Angka pertumbuhan beberapa brand otomotif juga bervariasi hingga mencapai angka tertinggi 100 – 300%. Kinerja ini kami telusuri data wholesales antara bulan Maret dan April 2026.
- Brand Denza mengalami kenaikan 126,6% pada periode yang sama.
- Brand Morris Garage tubuh 126,6%,
- Lexus mengalami pertumbuhan 218,9%,
- Changan tumbuh 225%,
- Aletra tumbuh 281%
- Polytron Tumbuh 200%.
Sementara itu, kami juga mencoba merangkum beberapa brand mobil listrik yang menguasai market selama bulan April 2026. Berdasarkan data GAIKINDO dari infografis sebelumnya, berikut adalah daftar kendaraan listrik yang mendominasi pasar:
- Jaecoo J5 EV: 3.179 unit
- BYD M6: 2.472 unit
- BYD Sealion 7: 1.617 unit
- Geely EX2: 1.421 unit
- Denza D9: 1.032 unit
- Wuling Darion EV: 628 unit
- Wuling Eksion EV: 591 unit
- Aion V: 449 unit
- VinFast VF3: 378 unit
- BYD Atto 3 Advanced: 372 unit
Tetap Waspada Terhadap Market
“Efek Lebaran Hangover” yang positif. Lonjakan 31,8% wholesales April bukan murni demand organik, karena sebagian adalah restocking dealer pasca kering stok di Maret. Kondisi ini normal, tapi perlu diwaspadai karena retail hanya tumbuh 13,7%. Jarak antara keduanya adalah hutang yang harus dibayar konsumen di bulan-bulan berikutnya, tinggal gimmick antar produk yang akan merebut hati konsumen.
CKD vs CBU: dua cerita berbeda soal ekspor. CKD tumbuh +35,4% sementara CBU kontraksi -1,8%. Artinya, mitra manufaktur luar negeri masih percaya pada kapabilitas perakitan Indonesia, tapi kendaraan jadi buatan dalam negeri kesulitan bersaing di pasar ekspor, kemungkinan karena kurs dan biaya logistik yang melonjak akibat ketegangan Selat Hormuz.
281% bukan pertumbuhan biasa. Fenomena ini biasa dikenal sebagai market entry. Aletra, Changan, Polytron dengan lonjakan ratusan persen bukan berarti mereka mendadak digemari. Mereka baru masuk atau baru ekspansi, jadi base Maret-nya sangat kecil. Yang menarik justru: apakah momentum ini bertahan di Mei–Juni.
Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi autos.id.
